Home » » Sistem pendidikn Indonesia “Bingung"

Sistem pendidikn Indonesia “Bingung"

Written By umam on 11 Sep 2008 | 9/11/2008 01:58:00 AM

Ini memang membingungkan, sistem pendidikan di Indonesia memang selalu terbentur dengan apa yang di sebut koordinasi dan birokrasi. Dapat kita rasakan sendiri, sesuatu yang kita anggap masuk akal ternyata tidak bagi pelaksana dari aturan pendidikan tersebut. Sistem pendidikan di Indonesia yang masih dalam proses belajar cenderung merugikan tenaga pengajar dan pelajarnya. Karena, dapat kita lihat dari kurikulumnya yang tidak jelas. Maksudnya, sistem kurikulum yang tidak tetap, setiap tahun ajaran baru pasti juga sistem kurikulumnya juga akan berganti dengan yang baru.

Untuk tingkat perguruan tinggi, bisa dikatakan lebih parah lagi. Bukan hanya dari sistem nya, tetapi juga dari dosennya. Contoh, dosen yang memberikan materi kuliah yang hanya memberikan penjelasan sedikit dan ketika ada salah seorang mahasiswa yang bertanya sang dosen memberikan penjelasan yang jauh menyimpang dari pertanyaan atau bahkan tidak memberikan jawaban sama sekali. Tetapi ada juga dosen yang memang benar-benar baik, ingin memberikan ilmu yang di milikinya dengan iklas kepada mahasiswanya.

Dapat kita rasakan sekarang bahwa sistem pendidikan di Indonesia ini sangat kacau sekali, yang mana pendidikan sekarang ini sudah tidak memanusiakan manusia lagi, tidak mencerdaskan dan menggali kekreativan pelajar. Akan tetapi, malah memperbodoh manusia.

Permasalahan Pendidikan Sebagai Suatu Sub-Sistem

Sebagai sub-sistem di dalam system negra/pemerintahan, maka keterkaitan pendidikan dengn sub-sistem lainnya diantarana ditunjukan sebagai berikut:


1. Berlangsungnya sistem ekonomi kapitalis di tengah-tengah kehidupan telah membentuk paradigma pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan sebagai bentuk pelayanan negara kepada rakyatnya yang harus disertai dengan adanya sejumlah pengorbanan ekonomis (biaya) oleh rakyat kepada negara. Pendidikan dijadikan sebagai jasa komoditas, yang dapat diakses oleh masyarakat (para pemilik modal) yang memiliki dana dalam jumlah besar saja.

2. Berlangsungnya kehidupan sosial yang berlandasakan sekulerisme telah menyuburkan paradigma hedonisme (hura-hura), permisivisme (serba boleh), materialistik (money oriented), dan lainnya di dalam kehidupan masyarakat. Motif untuk menyelenggarakan dan mengenyam pendidikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat saat ini lebih kepada tujuan untuk mendapatkan hasil-hasil materi ataupun keterampilan hidup belaka (yang tidak dikaitkan dengan tujuan membentuk kepribadian (shaksiyah) yang utuh berdasarkan pandangan syari’at islam

3. Berlangsungnya kehidupan politik yang oportunistik telah membentuk karakter politikus machiavelis (melakukan segala cara demi mendapatkan keuntungan) di kalangan eksekutif dan legislatif termasuk dalam perumusan kebijakan pendidikan indonesia.

Share this article :

0 comments:

Arsip Curahan

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Curahan Tangan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khotibul Umam
Proudly powered by Blogger