Home » » DAKWAH ROSUL PERIODE MADINAH

DAKWAH ROSUL PERIODE MADINAH

Written By umam on 11 Sep 2008 | 9/11/2008 01:50:00 AM

  1. BIOGRAFI SINGKAT MUHAMMAD S.AW

Muhammad bin Abdullah bin abdul manaf dilahirkan di kota Makkah. Abdullah ayah beliau meninggal dunia sewaktu beliau dalam kandungan,ibu beliau juga meninggal dunia sewaktu beliau berumur enam tahun.

Akhirnya beliau dibesarkan oleh kakeknya yang bernama abdul muthalib,sampai ia berumur delapan tahun,setelah kakeknya meninggal dunia ia tinggal dengan pamannya abu thalib,selama dia tinggal dengan pamannya ,prilaku dia mendapat perhatian penduduk sekitarnya,ia berbeda dengan anak anak yang seumur dengan beliau,dimana ia menata rapi rambutnya dan membersihkan wajah layaknya seperti orang dewasa,ia tidak rakus dalam masalah makanan dan tidak saling berebutan,sebagai mana anak anak sebaya dengan dia,dia hanya mencukupi sedikit makanan dan minumaan dan menjaga dari sipat tamak. Dalam hal situasi dan kondisi beliau selalu menunjukkan sikap dewasa.

Setelah bangun dari tidur kadang-kadang ia pergi ke sumur zamzam dan minum beberapa teguk, ketika matahari beranjak tinggi dia dipanggil untuk sarapan, dia hanya berkata"aku tidak merasa lapar"ia tidak pernah mengucapkan lapar dan haus baik dari kecil atau sudah dewasa.

Pamannya abu thalib selalu menidurkan ia di sampingnya aku tidak pernah mendengar kata-kata bohong dari mulutnya dan tidak ada prilaku yang tidak senonoh yang dia perbuat. tidak suka alat-alat mainan ,menyendiri dan merendahkan hati.

Pada usia delapan tahun dia menemani pamannya pergi berdagang ke syam (Syria) dalam perjalanan inilah sifat dan amanah dia teruji. Pada usia dua puluh lima tahun ia menikah dengan khadijah binti khuwailid. Di kalangan masyarakat makkah dia terkenal dengan gelar Al-amin, ia turut andil dalam perdamaian perperangan dua kabilah di Makkah,dia telah membuktikan ikut sertanya dalam perjanjian hilful fudhu,ia telah membuktikan kecintaan sesama manusia

Kesucian dan kejujuran dan menjauhkan diri dari segala bentuk syirik dan menyembah berhala. Tidak peduli dengan gemerlapan dunia dan selalu memikirkan pencipta ini dia yang membedakan Rasulullah dengan yang lain

Pada usia empat puluh tahun ia diangkat menjadi nabi selama tiga tahun ia berdakwah secara diam-diam di kota Makkah setelah masa tiga tahun turunlah ayat yang berbunyi"berilah peringatan kepada keluarga dekat mu"dan dia mulai melakukan dakwah secara terang-terangan dan dia mulai dari keluarga dekat dia sendiri setelah itu ia mendakwahkan untuk bertauhid dan meninggalkan syirik dan menyembah berhala

Semenjak dakwah rasul terang-terangan kaum quraisy menyatakan peperangan dengan beliau dan menentang dakwah beliau,dan mengganggu segala aktivitas beliau
Selama tiga belas tahun Rasulullah saw,menghadapi segala gangguan dan ejekan dari pembesar-pembesar quraisy dengan tegar ia tidak mundur walaupun selangkah
Dari misinya.

Setelah tiga tahun berdakwah di Makkah dia terpaksa harus hijrah ke Madinah pasca hijrah di Madinah lahan untuk dakwah islam tersedia dengan baik meskipun pada periode sepuluh tahun ini musyrikin munafikin dan kabilah-kabilah yahudi selalu mengganggu.

  1. SEJARAH SINGKAT HIJRAH KE MADINAH

Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW masih tidur.

Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi SAW menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman.

Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun karena mengira Nabi SAW sudah sampai di Yatsrib, keluarlah Nabi SAW dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor unta yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi SAW bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak pernah ditempuh orang.

Setelah 7 hari perjalanan, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi SAW membangun sebuah masjid yang kemudian terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi SAW sebagai pusat peribadatan.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi SAW. Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Nabi SAW sudah tiba di Yatsrib. Oleh sebab itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kedatangan Nabi SAW dan rombongan.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan kedatangan Nabi SAW. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala' al-Badru, yang isinya:

Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ'i (celah-celah bukit). Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai orang yang diutus kepada kami, engkau telah membawa sesuatu yang harus kami taati. Setiap orang ingin agar Nabi SAW singgah dan menginap di rumahnya.

Tetapi Nabi SAW hanya berkata,

"Aku akan menginap dimana untaku berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya."

Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian Nabi SAW memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Nabi SAW tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah untuknya.

Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.

  1. SASARAN DAKWAH RASULULLAH SAW DI MADINAH

Setelah rosul berhijrah ke Madinah bersama kaum muhajirin yang selalu mendampingi Rosul diterima dengan baik oleh kaum Madinah yang disebut kaum Ansor.

Sasaran dakwah Rosul di madinah ada empat sasaran yaitu:

  1. Dakwah Rasul terhadap Masyarakat arab ( muhajirin dan ansor )

Sebelum Nabi melakukan Hijrahnya ke Madinah, ada “rombongan dari suku khoroj” guna menjual dagangannya. Lalu terjadilah perbincangan antara Nabi dengan mereka, dan Nabi pun mengajak mereka untuk memeluk ajaran Islam yang dibawanya, dan dia meminta kesediaan mereka untuk menampung dan mendukungnya. Ada enam orang dari mereka yang langsung mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Keenam orang itulah yang kemudian menyebarkan ajaran Nabi ke Yatsrip hingga tersebar luas, dan bersedia untuk menampung nabi beserta rombongannya di Yatsrip[1].

Setelah Nabi tiba di Yatsrp, langkah pertama yang dailakukan rosul untuk mempertemukan kedua kelompok muhajirin (kaum mu’min Mekah yang ikut nabi Hijrah ke Madinah) dengan kelompok Ansor ( pengikut Nabi dari penduduk asli Madinah ).[2] Yaitu dengan jalan : pertama, ditegakkannya “Ukhuwah Islamiyah” (persaudaraan di dalam Islam), yaitu antara kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah) dan Anshar (penduduk Madinah yang masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin). Nabi SAW mempersaudarakan individu-individu dari golongan Muhajirin dengan individu-individu dari golongan Anshar.

Yang kedua: adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa persaudaraan tsb, yaitu tempat pertemuan. Sarana yang dimaksud adalah masjid, tempat untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT secara berjamaah, yang juga dapat digunakan sebagai pusat kegiatan untuk berbagai hal, seperti belajar-mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul dalam masyarakat, musyawarah, dan transaksi dagang. dan kemudian setelah jadi diresmikanlah setelah Nabi berhasil menjalankan misi utamanya, yaitu terbangunnya “masjid Nabawi”. Masjid itu dipergunakan pertama kali yaitu untuk mengikat kedua kelompoknya tersebut ke dalam persaudaraan. Antara suku bani Nadzir dan orang-orang Muhajirin dijalin dalam janji persaudaraan ; saling jal;in cinta kasih sebagaimana saudara kandungnya sendiri, melindunginya sebagaimana melindungi dirinya sendiri, memberi makan dan saling berbagoi pahit dan manisnya kehidupan.

Yang ketiga: diberi dasar-dasar pengetahuan tentang politik, social dan ekonomi. Yang mana perpolitikan diajarkan untuk menghapuskan jurang pemisah antar suku-suku dan berusaha menyatukan seluruh penduduk Madinah sebagai satu-kesatuan masyarakat. Sedangkan social beliau terapkan guna meningkatkan kerukunan. Nabi sangat menyadari bahwa dasar fondasi imperium Islam tidak akan kuat, kecuali didasari oleh kerukunan dan dukungan dari masyarakat. Untuk ekonomi sangat beliau tekankan karena kaum Anshor sangat progresif dalam segi bercocok tanam. Sedangkan kaum Muhajirin sangat asing dengan kegiatan-kegiatan kaum Anshor. Namun Nabi sangat menekankan hal itu untuk terjalinnya ikatan dari kedua kubu.

Yang ke empat: pengkaderan yang berfungsi untuk mengkader orang-orang Muslim yang saip diturunkan untuk mengajarkan misi Islam.

Kelima: membuat suatu lembaga konsultasi, yang tujuannya untuk sumber dialektika antar muslim bila mengalami gejolak kehidupan.

Keenam: integrasi. Perkawinan antar kelompok satu dengan kelompok lain.

  1. Dakwah Rasul Terhadap Kaum Yahudi di Madinah.

Dalam misi itu Rasulullah menginginkan bahwa hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam. Di Madinah, di samping orang-orang Arab Islam juga masih terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan, Nabi Muhammad SAW mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka.

Perjanjian tersebut diwujudkan melalui sebuah piagam yang disebut dengan Mîsâq Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara lain mengenai kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan derajat, dan disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi kepala pemerintahan di Madinah

Dengan terbentuknya perjanjian tersebut, diharapkan berakhirlah permusuhan antar sesama saudara, khususnya golongan Yahudi yang tinggal di Madinah. Pokok-pokok ketentuan piagam Madinah antara lain;

    1. seluruh masyarakat yang menandatangani piagam ini bersatu membentuk satu-kesatuan kebangsaan. Jika salah satu kelompok yang terlibat dalam piagam Madinah diserang musuh, maka kelompok lain harus membelanya.
    2. haram mengadakan persekutuan dengan kafir Quraisy.
    3. orang Islam, Yahudi dan seluruh warga Madinah bebas memeluk agama masing-masing, tidak seorang pun diperkenankan mencampuri urusan agama lain.
    4. urusan pribadi tidak harus melibatkan pihak lain secara keseluruhan.
    5. segala bentuk penindasan (eksploitasi) dilarang.
    6. mulai hari itu juga segala bentuk kekerasan diharamkan di seluruh Negeri Madinah.
    7. pengangkatan Nabi sebagai kepala redaksi publik Madinah.

Penindakan tegas terhadap pelanggar perjanjian piagam Madinah, antara pergi dari Madinah atau perang.

  1. Dakwah Rasul Terhadap masyarakat Mekkah

1. Konfrontasi

Nabi menyampaikan strategi perang dengan bijaksana, dan di dalam strategi tersebut mengandung banyak unsur-unsur dakwahnya. Misalnya : “janganlah sekali-kali beranjak meninggalkan tempat pertahanan, melainkan bersiagalah di tempat masing-masing yang telah ditentukan”. Janganlah memulai menyerang, melainkan tunggu perintah dari Saya. Janganlah kalian meluncurkan serangan, anak panah sementara pihak musuh masih kuat, bidikkan mata panah kalian pada sasaran musuh yang jelas, sebelum Nabi memulai perang, nabi menganjurkan pada pasukannya untuk berdo’a agar Allah memberikan keberhasilan dalam melawan kekuatan militer kafir mekah yang jumplah pasukannya jauh lebih besar.

2. Perjanjian Hudaibiyah

Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk mengunjungi Mekkah sangat bergelora. Nabi SAW memimpin langsung sekitar 1.400 orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dilarang adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.

Sebelum tiba di Mekkah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer dari Mekkah. Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekkah dengan menempatkan sejumlah tentara untuk berjaga-jaga.

Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah,yang isinya antara lain:

a) Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 10 tahun.

b) Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia harus dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad SAW yang menyeberang ke pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak Muhammad SAW.

c) Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak Muhammad SAW maupun dengan pihak Quraisy.

d) Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah pada tahun tsb, tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya.

e) Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekkah, orang Quraisy harus keluar lebih dulu.

f) Kaum muslimin memasuki kota Mekkah dengan tidak diizinkan membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh tinggal di Mekkah lebih dari 3 hari 3 malam.

Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tsb sebenarnya adalah berusaha merebut dan menguasai Mekkah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain.
Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini :

v Mekkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam dapat tersebar ke luar.

v Apabila suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam akan memperoleh dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa Arab.

Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam setelah menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, di samping juga melihat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah

· dengan perjanjian tersebut secara tidak langsung mengangkat popularitas Nabi sebagai pemimpin umat islam negeri Madinah.

· Dengan gencatan senjata selama 10 tahun merupakan kesempatan yang baik untuk menyebar luaskan agama islam.

· Kebesaran islam yang ditampilkan melalui kearifan sikap Nabi dan perjanjian itu, secara tidak langsung telah menarik simpati orang-orang Quraisy.

3. Fathul Mekah

Ketika waktu yang ditunggu telah tiba nabi mengirimkan utusan kepada pemuka Qurais dengan membawa misi perdamaian, diantaranya :

· Orang Quraisy harus membayar ganti rugi terhadap para korban suku Khuza.

· Kaum Quarisy mekah harus menghentikan persekutuan mereka dengan suku Bani Bakar.

· Orang Quraisy harus menyatakan pembatalan terhadap perjanjian Udaibaiyah.

  1. DAFTAR PUSTAKA

Prof. K. Ali, Sejarah islam ( Tarikh Pramoderen ), Srigunting, Jakarta. 1996.

Abdur Rohman Asy Syarqowi, Muhammad sang Pembebas, Mitra Pustaka, yogyakarta, 2003.

islam.elvini.net/rasul.cgi?nabi11#hijrah

kajian-muslimah.blogspot.com/2005/05/shirah-tentang-fase-dakwah-di-madinah.


Share this article :

0 comments:

Arsip Curahan

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Curahan Tangan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khotibul Umam
Proudly powered by Blogger